AyoMondok

AYO MONDOK ! PESANTRENKU KEREN
PonPes An Nur

Kp. Karanganyar Rt. 06 Rw. 01 Ds. Mekarmulya Kec. Malangbong, 44188, Kab. Garut, Jawa Barat


  KH. Deden Muhammad Ilyas Badruddin, BA, S.Pd.I, M.Si
   02622820027
   mtsannur1@gmail.com
  

Profil

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (QS. Attaubah 122)

Sejarah Fase Pertama/Masa Merintis (1870 – 1933) :

“Pondok Pesantren YPI An-Nur” lahir atas prakarsa dan cita-cita seorang kiyai, yakni Alm. K.H. Moehammad Djalaluddin, pada tahun 1870. dengan berbekal tekad untuk mengabdi demi perjuangan “Dinul Islam” dan kemerdekaan bangsa Indonesia, Almarhum dengan di dukungan keluarga/ kerabat dan masyarakat berupaya untuk menyelenggarakan lembaga pendidikan agama/ pesantren.

Masa kepemimpinan beliau di Pesantren tersebut. Hanya berjalan tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun, yakni tahun 1870 – 1880.

Sepeninggal Almarhum, muncullah beberapa orang penerus, yaitu:
1) Alm. K. H. Moehammad Anwar bin K. H. Moeh Djalaluddin, tahun 1880 – 1891;
2) Alm. K. H. Nahrawi bin K. H. Moeh. Anwar, dari tahun 1891 – 1899;
3) Alm. K. H. Abdul Rahman bin K. H. Moeh. Anwar, dari tahun 1899 – 1933.

Pada periode pertama ini, Fasilitas yang dimiliki oleh Pondok Pesantren “An-Nur” hanya 1 buah mesjid berukuran 8 x 6 M, dan satu buah asrama santri yang kondisinya sangat darurat. Sedangkan system pendidikan yang digunakan pada masa itu adalah system tradisional ( nonklasikal ) dengan bidang kajian, antara lain:
a. Al-qur’an dan Tafsir;
b. Fiqih;
c. Tauhid;
d. Bahasa Arab.

Sepeninggal Alm. K.H. Abdul Rahman pada tahun 1933, kegiatan pesantren mengalami kevakuman, karena terjadinya keterputusan kader penerus. Sungguhpun demikian, kegiatan jemaah mesjid dan pengajian anak kampung (santri kalong) tetap berjalan.

Sejarah Fase Kedua / Masa Pengembangan (1942 – 1999) :

Pada tahun 1942 muncullah seorang kiyai penerus yang memimpin pondok pesantern ini sampai sekarang. Ia adalah K.H. Ahmad Badruddin bin K.H. Abdul Rahman. Ketika ayahnya meninggal dunia, ia masih anak yang berusia di bawah 10 tahun. Namun berkat bimbingan dan asuhan dari ibundanya, Alm. Ny. Rd. Hajjah Siti Ruqiyah, setelah menginjak usia dewasa, ia mampu melanjutkan cita – cita dan perjuangan para orang tuanya walaupun secara formal pendidikannya hanya sampai di kelas 3 SR saja. Kesanggupan “membaca” prasasti/ garis perjuangan para pendahulunya itulah bekal kebulatan tekad untuk menghidupkan serta meneruskan pondok pesantren tersebut.

Masa pengembangan ini meliputi dua bidang pengembangan, yaitu :
a. Pengembangan Pendidikan
Ketika Beliau mulai terjun ke masyarakat melanjutkan perjuangan orang tuanya, berkembang dalam kehidupan masyarakat situasi “percekcokan” dan sikap “saling cemburu” di antara generasi muda yang berlatar belakang pendidikan sekolah di satu pihak, dan pendidikan pesantren di pihak lain. Berangkat dari keprihatinan atas gejala dan situasi tersebut, serta didorong oleh upaya mengimbangi kemajuan zaman dengan segala aspeknya, Beliau mengambil kebijaksanaan untuk memadukan system pendidikan pesantren dengan system pendidikan sekolah.

Demikian pula, pendidikan kepesantrenan diteruskan dan dikembangkan. Pengajian kitab-kitab kuning berjalan terus dengan system bandongan dan sorogannya. Sedangkan materi kajiannya adalah Al-Quran dan Tafsir, Hadits dan Ulum Al-Hadits, Fiqih dan Ushul Fiqih, Tauhid dan Tasawuf, Bahasa Arab (nahwu, sharaf, balaghahnya).

Selain wujud pengembangan pendidikan tersebut di atas, dikembangkan pula pendidikan ekstrakurikuler, berupa latihan mubalighin, kepanduan (pramuka), seni budaya, dan keterampilan.

b. Penerbitan dan Pengembangan Organisasi Kelembagaan Pesantren

Seiring dengan pengembangan dan pembinaan dalam bidang pendidikan dan pengajaran, dalam kerangka pemantapan dan pengembangan kelembagaan pondok pesantren, dilakukan pula upaya penertiban dan pengembangan bidang keorganisasian. Dalam hal ini secara kronologis dapat di lukiskan sebagi berikut :

1) Sampai tahun 1953, lembaga pendidikan ini hanya dikenal dengan sebutan “Pesantren Karanganyar” saja.

2) Pada periode awal berdirinya Madrasah pengurus pesantren menggunakan nama “Miftahussibhyan”.

3) Untuk memantapkan langkah selanjutnya, dan sesuai dengan pelaturan Mentri, tentang organisasi/ lembaga pendidikan, pimpinan pesantren bersama jajaran pengurus mengambil kebijaksanaan dengan menggabungkan bersama salah satu organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, yang relative kuat dan ternama di tanah air ini; khususnya di jawa barat, yaitu Persatuan Umat Islam (PUI), yang di pimpin oleh Alm. K. H. Abdul Halim, dan berpusat di Majalengka.

4) Pada akhir dasa warsa 60-an, secara intern pengurus pesantren menetapkan nama untuk kelembagaan dengan nama “Lembaga Pendidikan Islam An-Nur (LPI An-Nur)”, dan secara organisatoris masih tetap menginduk kepada PUI.

( Dalam hal ini, perlu kami kemukakan, bahwa namaAn-Nur ini dilatar belakangi oleh : pertama,mengabdikan nama perintis kepemimpinan pondok pesantren ini, yang dinilai relative banyak memberikan pengorbanannya, yaitu Alm. K.H. Moehammad Anwar (1880-1891), dan Alm. H. Enur.Kedua, menisbahkan kepada nama “An-Nur” yang di Indonesiakan menjadi “Cahaya”. Hal ini menyiratkan harapan, bahwa lembaga ini menjadi cahaya kehidupan atau mercu penerang umat. Dalam kata lain bergantung harapan dan cita-cita; memberikan kemampaatan yang maksimal bagi masyarakat, bangsa, negara dan agama. )

5) Pada dasa warsa 70-an, beberapa orang Alumnus Pendidikan Guru Agama 6 tahun An-Nur, yang berdomisili di daerah Malangbong mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan menggabungkan diri kepada lembaga pendidikan Islam An-Nur. Pada saat ini jumlah MI tersebut ada 9 buah (MI An-Nur I s.d. MI An-Nur IX).

6) Pengurus LPI An-Nur kemudian memandang perlu untuk lebih memantapkan organisasi agar lebih mandiri dan memiliki kekuatan hukum. Untuk hal ini, maka pada tahun 1980, pengurus pondok pesantren An-Nur menetapkan lembaga yang berbada hokum dengan nama “Yayasan Pendidikan Islam An-Nur”. Hal ini dikukuhkan dengan Akta Notaris, Ny. Susana Zakariya, SH. No 56, tanggal 20 Mei 1980; dan Registrasi Pengadilan Negeri Garut, Nomor 1/ YY/ 1980, tanggal 28 Mei 1980.

7) Pada tahun 1991, Pengurus Yayasan Pendidikan Islam An-Nur mencoba mengkoordinir para calon pengelola/ Guru Taman Kanak-kanak/ Taman Pendidikan Al-Qur’an ( TK/ TP Al-Qur’an ) se- Kecamatan Malangbong. Sebagai salah satu hasil kegiatan di atas, saat ini telah terdaftar sebanyak 36 buah TK/ TP Al-Qur’an, dengan berbagai nama lembaga pengelola, dan di antaranya sebanyak 7 buah TKA/ TPA yang secara langsung menginduk kepada YPI An-Nur.

8) Pada saat ini Yayasan Pendidikan Islam An-Nur, selain mengelola lembaga pendidikan “Pondok Pesantren YPI An-Nur”; yang meliputi pengajian tkahasus, majelis talim, serta TK/ TP Al-Quran, juga memiliki Madrasah-madrasah formal yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Malangbong. 

9) Secara organisatoris, Yayasan Pendidikan Islam An-Nur memberikan hak otonomi kepada Pondok Pesantren An-Nur untuk secara langsung mengelola lembaga pendidikan yang berada di Kompleks pusat, yaitu wilayah Kampung Karanganyar Kec. Malangbong Kabupaten Garut, yakni :

Sejarah Fase Terakhir/ Kondisi Sekarang (2000 – 2007) :

Sepeninggal Pimpinan Pondok Pesantren YPI An-Nur, Alm. K.H. Ahmad Badruddin, pada tahun 1999, kamiselaku penerus perjuangannya memiliki kewajiban untuk terus berjuang melanjutkan dan mengembangkan keberadaan pondok pesantren Ini..

Maka pada tahun 2000, kami menetapkan penyesuaian AD/ ART Yayasan Pendidikan Islam An-Nur ini di bawah Akta Notaris Heri Hendriyana, S.H., Nomor 20, tanggal 31 Juli 2000, dan registrasi Pengadilan Negeri Garut, Nomor 35/Yy/2000, tanggal 14 Agustus 2000. Selanjutnya, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2004, kami menetapkan susunan manajemen sesuai dengan ketentuan, yang meliputi:
a. Dewan Pembina
b. Dewan Pengurus, dan
c. Dewan Pengawas

Visi :
Iman, Ilmu, Amal, dan Ikhlash

Misi :
Membentuk pribadi Muslim yang tafaqquh fiddin serta mencintai bangsa dan Negara

Moto :
Berilmu Amaliah, Beramal Ilmiah

Program Unggulan : 
Kitab Kuning dan Kompetensi Dasar Keagamaan

Pengasuh : KH. Deden Muhammad Ilyas Badruddin, BA, S.Pd.I, M.Si

Pendiri : KH. Ahmad Badruddin


Info Unggulan

Kitab Kuning dan Kompetensi Dasar Keagamaan

Jenjang Pendidikan

Pendidikan Formal :

1. Us Alwanuddin

Pendidikan Nonformal :

1. hapalan, tajwid, dan kitab jurumiyah

2. kitab-kitab kuning

Ekstrakurikuler

Kegiatan Pengembangan Santri dilakukan setiap hari dengan kegiatan yang berbeda-beda

Ekstrakurikler :

1. Tarbiyatul Mubalighin (Latihan Dakwah)

2. Pertanian

3. Peternakan

4. Pecinta Alam (ASIPA)

5. Pramuka


Fasilitas

Pondok Pesantren bukan hanya mendidik santri bisa mengaji, namun memberikan pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan di masa yang akan datang.

Fasilitas :

1. Fasilitas Mengaji

2. Fasilitas Sekolah

3. Fasilitas Sarana dan Prasarana




Ayo Mondok ! Pesantrenku Keren

Ayo bergabung bersama kami dan menjadi bagian dari sebuah sajian informasi yang sangat penting di era digital saat ini, bagaimana pula hal ini akan membuat Pondok Pesantren Anda akan dikenal secara lebih luas oleh masyarakat publik internasional lewat sebuah informasi yang tersaji. Hal ini tentunya akan menjadi keuntungan / promosi tersendiri bagi pondok pesantren yang telah bergabung bersama kami.

© 2016-2018 PP. RMI NU & Team Ayo Mondok
Hak Cipta Dilindungi