AyoMondok

AYO MONDOK ! PESANTRENKU KEREN
PonPes Darussalam Sumbersari Kediri

Ds. Kencong Kec. Kepung Kab. Kediri Prop. Jawa Timur 64201, Kab. Kediri, Jawa Timur


   KH. Imam Faqih SH.
   0354-392417
  darussalamsbs@gmail.com
   www.darussalamsumbersari.com

Profile

KESAN bahwa dalam sistem pendidikan pesantren harus selalu mengikuti pendapat guru, Gus dan Kiainya tanpa berfikir ulang tidak tampak pada pesantren Mamba’ul Huda. Bahkan kebebasan berfikir dan berwawasan luas menjadi hal yang saat ini sedang diperjuangkan oleh pesantren.

Berbagai wadah diskusi, “geng nongkrong” ala santri, bahtsul masa’il dan terbitnya majalah-majalah serta buletin-buletin mingguan dan bulanan hanyalah sebagian kecil dari wujud kebebasan berfikir dan berpendapat ini yang berkembang di pesantren ini.

Di Mamabaul Huda ini, para santri laki-laki dan perempuan dapat mengenyam pendidikan yang setara. Santri perempuan memiliki akses pendidikan dan pengetahuan yang sama dengan santri laki-laki. Segala pengetahuan, ilmu, hingga ketrampilan yang diajarkan kepada santri laki-laki pun juga diajarkan kepada para santri putri.

Terlebih lagi perkenalan pesantren ini dengan Rahima pada 2013 dalam training kesetaraan gender dan kesehatan reproduksi. Hal tersebut seperti mendorong tumbuhnya kesadaran tentang pentingnya kesetaraan dan keadilan gender, khususnya dalam bidang pendidikan.

Di tahun 2014 ini, Mambaul Huda juga terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Rahima tentang pelatihan penguatan kapasitas pendidik sebaya. Pelatihan ini pada akhirnya membuka mata dan telinga tentang betapa pentingnya pendidikan yang tidak hanya berpusat pada ruang dan waktu. Karena pendidikan dan pembelajaran itu sesungguhnya bisa dilakukan oleh siapapun bahkan teman sebaya. Pendidikan organisasi dan kepengurusan misalnya telah melatih siswa dan santri untuk dapat berkomunikasi dengan sosialnya.

Lebih jauh, santri Mamba’ul Huda bisa secara bebas menyampaikan suatu masalah untuk kemudian dipecahkan secara bersama-sama oleh teman sebayanya. Salah satu media yang saat ini menampung pendapat, tulisan dan permasalahan santri adalah adanya forum “geng nongkrong” yang membahas permasalahan remaja beserta solusinya.

Hasil diskusi dari forum itu disosialisasikan oleh para santri. Selain itu mereka juga menerbitkannya dalam bentuk buletin Edukasi dan Motivasi (EMO) dan Krasak Post. Berdiri Tahun 1944 Pesantren Mambul didirikan oleh KH Abdul Majid pada 17 Agustus 1944 di Desa Krasak, Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lahir di Yogyakarta, pemuda Abdul Majid, yang sewaktu kecil bernama Slamet, memuarakan pengembaraan panjangnya dari Yogyakarta ke Krasak.

Krasak merupakan sebuah dusun sepi penuh bambu yang jauh dari perkembangan peradaban di Banyuwangi. Daerah itu kini acapkali disebut Kota Santri-nya Banyuwangi lantaran banyak jumlah pesantren yang ada di wilayah ini.

Di dusun kecil inilah akhirnya KH Abdul Majid, biasa disapa Mbah Dul, menetap dan menyebarkan ilmu kepada masyarakat luas. Maka berdirilah Pesantren Mambaul Huda yang menyebarkan hikmah ke berbagai wilayah. Di pesantren ini pula, masyarakat berduyun-duyun datang sebagai santri, berkumpul dan ngangsu kawruh agama, mencari hikmah Tuhan untuk menuju hidup yang memiliki arti dan nilai lebih.

Kepada para santrinya, Mbah Dul senantiasa mengajarkan sembilan prinsip hidup dengan “Sembilan Kata Mutiara Hikmah.” Prinsip-prinsip hidup tersebut yaitu: patheng (rajin), temen (jujur) gemi (hemat), setiti (waspada), ngati-ngati (berhati-hati), guyub (kompak), rukun, loman (dermawan), welas sak podho-podho (menyayangi sesama). Mulai PAUD hingga MA Unggulan Di awal masa berdirinya, Mamba’ul Huda kecil layaknya pesantren tradisional umumnya yang juga mengalami pasang-surut hingga pada tahun 1970 Mamba’ul Huda bisa berdiri tegak. Dengan dibantu oleh generasi kedua pasca pendiri, pesantren ini kini menjadi tumbuh dan berkembang.

Para generasi penerus Mbah Dul lantas membentuk unit-unit kegiatan yang relevan dengan kebutuhan santri dan pesantren. Itu antara lain, Madrasah Diniyah Miftahul Huda yang menjadi unit formal pertama yang dibangun tahun 1954. Menyusul kemudian MI, TK, MTs Mamba`ul Huda (1989), SMK Negeri (2005), PAUD Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Mamba`ul Huda (2009) serta lembaga-lembaga lainnya.

Karena unit-unit terus bertambah dan berkembang, maka dibentuklah Yayasan Pondok Pesantren Mamba`ul Huda (YPPMH) pada 14 Rajab 1408 H (29 Maret 1988). Dengan berdirinya yayasan, maka unit-unit yang ada di lingkungan PPMH menjadi unit-unit yayasan. Pemangku-pemangku ini tak lain adalah putra-putri Mbah Dul sendiri. Pada masing-masing unit semua santri diajarkan mengaji dan mengkaji Alqur’an, kitab kuning dan ketrampilan usaha. Selain lembaga formal di bawah naungan kementerian agama dan kementrian nasional di atas, Mamba’ul Huda juga menyediakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yakni Kejar Paket A, Kejar Paket B dan Kejar Paket C. Merupakan pusat pendidikan yang disediakan untuk masyarakat yang tidak menyelesaikan sekolah formalnya.

Selain lembaga pendidikan, pesantren ini juga dilengkapi dengan Mamba’ul Huda Health Care Center (HCC) yang menyediakan Pos Kesehatan Pesantren sebagai layanan kesehatan santri, Kopontren Kusma (Koperasi Usaha Mamba’ul Huda) dan berbagai kursus keterampilan. Pertahankan Ciri Khas Pesantren Kendati ada pendidikan formal dan berkembang pesat, pesantren Mamba`ul Huda tetap mempertahankan ciri khas sebagai lembaga pesantren yakni dengan mengajarkan kitab-kitab kuning, baik itu dengan metode soroganmaupun bandongan.

Dengan banyaknya lembaga pendidikan formal yang diamanatkan kepada Mamba’ul Huda ini, pesantren tetap mewajibkan santri untuk mengikuti pendidikan Diniyah sebagai supply keagamaannya. Dimana madrasah yang mempunyai tiga tingkat; Ula, Wustha dan ‘Ulya ini, santri diajarkan ilmu alat meliputi Nahwu, Sharaf, dan Bahasa Arab, ilmu praktek seperti Fikih, Ushul Fikih, Tafsir, dan Hadis, serta ilmu dasar keagamaan seperti Akidah Akhlak, Ilmu Kalam dan lain sebagainya. Jumlah santrinya saat ini mencapai sebanyak 1000 lebih santri yang belajar di pesantren ini. Para santri itu meliputi santri tetap dan santri kalong. Bahkan jaringan alumninya mencapai 6000 orang. Melihat pertumbuhan dan perkembangan pesantren ini sekarang membuat perannya di tengah masyarakat tidak bisa diabaikan begitu saja. Pesantren ini jelas punya peran penting dalam memajukan pendidikan, agama, manusia dan masyarakat di wilayah sekitarnya {} Anjahana, alumni dan saat ini saat ini mengabdi di PP Mamba’ul Huda.

Pengasuh : KH. Imam Faqih SH.

Pendiri : KH. Ahmad Zainuri

Info Unggulan

Jenjang Pendidikan

Jumlah Santri Putra : 1155

Jumlah Santri Putri : 1100

Pendidikan Formal :

1. TK Darul Athfal

2. MI Darussalam

3. MTS Darussalam

4. STISFA
Atas dasar pemikiran cemerlang KH. Ahmad Zainuri Faqih, pengasuh Pondok Pesantren “Darussalam” Sumbersari Kencong Kepung Kediri Jawa Timur, agar pengurus Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren “Darussalam” Madrasah Islamiyah “Darussalamah” mengundang semua keluarga alumni, untuk memberikan pendapat, saran, kritik yang membangun, dan evaluasi perkembangan pendidikan yang ada di lingkungan yayasan “Salimiyah” Sumbersari.
Berangkat dari hal tersebut diatas, pada saat peringatan Haul ke 19 pendiri Pondok Pesantren “Darussalam” KH. Imam Faqih Asy’ari, pada tanggal 27 Nopember 2011 M diadakan pertemuan Alumni seluruh Indonesia yang dihadiri dari berbagai daerah, diantaranya dari kabupaten Kediri secara khusus, provinsi Jawa Timur secara umum, provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, ada juga yang hadlir dari luar jawa, seperti dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, dan masih banyak lainnya.
Dalam pertemuan keluarga Alumni tersebut, dapat disimpulkan, ada 3 hal penting yang mesti ditindak lanjuti oleh pengurus yayasan “Salimiyah” dan Pengasuh Pondok Pesantren “Darussalam” Sumbersari, yaitu :
1.     Dalam rangka untuk mempertahankan, bahkan untuk meningkatkan eksistensi pondok pesantren “Darusslam” Sumbersari, maka diperlukan penjalinan komunikasi yang sehat terhadap masyarakat luas, tentu dengan memperhatikan visi dan misi yayasan “Salimiyah”.
2.     Sebesar Pondok Pesantren “Darussalam” Sumbersari, seharusnya sudah mampu mandiri di bidang ekonomi lembaga. Dalam hal ini, telah dirumuskan adanya ekonomi lembaga dengan didirikannya “DARUSSALAM FOUNDATION”, yang bergerak di bidang pertanian holtikultura, perikanan dan peternakan, serta perbankkan Syari’ah.
Adanya Ma’had Aly “Darussalam” yang selama ini payung hukumnya masih bergabung dengan perguruan tinggi lain, sudah saatnya Pondok Pesantren “Darussalam” Sumbersari mendirikan perguruan tinggi sendiri. 

Pendidikan Nonformal :

1. Metode Sorogan
Yaitu kegiatan pembelajaran bagi santri yang lebih menitik beratkan pada pengembangan kemampuan perseorangan (individu) dibawah bimbingan seorang ustadz atau kyai.

2. Metode Bandongan / Wetonan
Yaitu kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang kyai atau ustadz terhadap sekelompok peserta didik atau santri untuk mendengarkan dan menyimak apa yang dibaca, diterjemahkan, diterangkan dan diulas dari teks-teks kitab berbahasa Arab tanpa harakat( kitab gundul, kitab salaf ,kitab klasik, kitab kuning / al-kutub al-shafra’).

3. Metode Musyawarah/ Bahtsul Masa’il
Yaitu metode pembelajaran yang mirip dengan metode diskusi atau seminar. Beberapa santri dengan jumlah tertentu membentuk halaqah yang dipimpin oleh seorang kyai atau ustadz atau mungkin juga santri senior, untuk membahas atau mengkaji suatu persoalan yang telah ditentukan sebelumnya.

4. Metode Takrar / Study Club
Yaitu metode pembelajaran para sekelompok santri satu kelas/tingkatan melalui pengulangan pelajaran yang telah disampaikan oleh kyai/ustadz.

5. Metode Pengajian Pasaran / Kilatan
Yaitu kegiatan belajar para santri melalui pengkajian materi (kitab) tertentu pada seorang ustadz yang dilakukan terus menerus (maraton) selama tenggang waktu tertentu. Tetapi umumnya pada bulan Ramadlan selama setengah bulan, dua puluh hari atau satu bulan penuh tergantung pada besarnya kitab yang dikaji. Metode ini mirip dengan metode bandongan. Akan tetapi pada metode ini target utamanya adalah selesei/khatam.

6. Metode Hafalan / Muhafadzah
Metode hafalan ialah kegiatan belajar santri dengan cara menghafal suatu teks tertentu dibawah bimbingan dan pengawasan seorang ustadz/kyai. Para santri diberi tugas untuk menghafal bacaan-bacan/nadlom dalam jangka waktu tertentu, kemudian dihafalkan dihadapan ustadz/kyai secara periodik atau insidental tergantung petunjuk gurunya tersebut.

7. Metode Demonstrasi / Praktek Ibadah
Ialah Cara pembelajaran yang dilakukan dengan memperagakan (mendemonstrasikan) suatu ketrampilan pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok dibawah petunjuk dan bimbingan ustadz.

8. Metode Rihlah Ilmiyah / Studi Tour
Yaitu kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan melalui kegiatan kunjungan (perjalanan) menuju tempat tertentu dengan tujuan mencari ilmu.

9. Metode Muhawarah / Muhadatsah / Percakapan
Metode ini merupakan latian bercakap-cakap dengan bahasa Arab atau bahasa asing lain yang diwajibkan oleh pondok pesantren kepada para santri.

10. Metode Mudzakarah / Diskusi
Yaitu pertemuan ilmiyah yang membahas masalah diniyah, seperti ibadah,aqidah dan masalah agama pada umumnya.Metode ini mirip dengan metode musyawarah, bedanya metode mudzakarah pesertanya adalah para kyai atau santri tingkat tinggi.

11. Metode Riyadhah / latihan Mental
Metode Riyadhah merupakan suatu metode pembelajaran di pesantren yang menekankan pada olah batin untuk mencapai kesucian para santri dengan berbagai macam cara berdasarkan petuntuk dan bimbingan kyai. Metode ini dimaksudkan untuk pembentukan dan pembiasaan sikap serta mental santri agar dekat kepada Tuhan.

12. Metode Safari Da’wah
Yaitu kegiatan pembelajaran pada santri senior dengan cara mengadakan kunjungan ke daerah-daerah yang kurang agamis dalam jangka waktu tertentu untuk menyampaikan, mempraktekan dan menumbuhkembangkan prilaku agamis.

Ekstrakurikuler

1. KOORDA, 2. JAM'IYAH, 3. ISDA 4. MTQ 5. Hadrah

Fasilitas

Fasilitas :

1. Ruang Belajar

Ruang belajar klasikal terdiri dari 35 lokal kelas :

a.       Dua gedung lantai II : terdiri dari 20 lokal

b.     Tiga gedung lanta I : terdiri dari 15 lokal

2. Asrama Santri

Bangunan asrama santri putra sebanyak 22 gedung.

a.       Asrama Diponegoro

b.     Asrama Lamongan

c.       Asrama Banyuwangi

d.     Asrama Sumberpancur

e.       Asrama Sidomulyo

f.       Asrama Surabaya – Sidoarjo

g.     Asrama Purwokerto

h.     Asrama Nganjuk

i.       Asrama Kedu

j.       Asrama Madura

k.     Asrama Madiun

l.       Asrama Blitar

m.   Asrama Jogjakarta

n.     Asrama Tulung Agung

o.     Asrama Sumatra

p.     Asrama Kediri

q.     Asrama Gresik

r.       Asrama Bangil

s.       Asrama Malang

t.       Asrama Al Mudhofar

u.     Asrama Al Munawar

v.     Asrama A’wan

3. Bangunan asrama santri Putri berjumlah 3 gedung

a.       Asrama Al Abror

b.     Asrama Al Muqoddas

c.       Asrama Al Azhar

4. Masjid dan Mushola

a.       Masjid : 1 Unit

b.     Musholla : 5 Unit

Selain digunakan sebagai tempat ibadah, juga sebagai tempat kegiatan belajar-mengajar (tempat pengajian kitab-kitab salaf).

6. Fasilitas Lainnya

a.       Perpustakaan putra dan putri

b.     Pos Kesehatan Pesantren dan Ambulance

c.       Laboratorium bahasa arab

d.     Laboratorium keterampilan (menjahit dan bordir)

e.       Dua gedung koperasi pondok

f.       Satu gudang perlengkapan

g.     Lima kamar mandi khusus guru putra dan lima kamar mandi guru putri

h.     Sepuluh kamar mandi khusus santri putra dan Duabelas kamar mandi putri

i.       Lima kantin putra dan lima kantin putri

j.       Tujuh dapur santri

Satu buah bengkel untuk praktek




Ayo Mondok ! Pesantrenku Keren

Ayo bergabung bersama kami dan menjadi bagian dari sebuah sajian informasi yang sangat penting di era digital saat ini, bagaimana pula hal ini akan membuat Pondok Pesantren Anda akan dikenal secara lebih luas oleh masyarakat publik internasional lewat sebuah informasi yang tersaji. Hal ini tentunya akan menjadi keuntungan / promosi tersendiri bagi pondok pesantren yang telah bergabung bersama kami.

© 2016-2018 PP. RMI NU & Team Ayo Mondok
Hak Cipta Dilindungi