AyoMondok

AYO MONDOK ! PESANTRENKU KEREN
PonPes Sunan Derajat

Kompleks Pondok Pesantren Sunan Drajat Banjaranyar, Paciran, Lamongan, Kab. Lamongan, Jawa Timur


  
   +62336444804
 
   www.mqppsunandrajat.blogspot.co.id

Profile

Menjelang Pemilu dan Pemilihan Presiden 2009, Pondok Pesantren Sunan Drajat di Paciran, Lamongan, Jawa Timur semakin ramai dikunjungi para politisi. Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri beberapa waktu lalu, juga melakukan safari politik di Pesantren yang dipimpin KH Abdul Ghofur itu. Prabowo Subianto, yang belakangan sering tampil lewat iklan layanan masyarakat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), bahkan tidak hanya sekali berkunjung ke pesantren yang memiliki 8.000 santri itu. "Ponpes kami terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang dari mana asal parpolnya," kata Pimpinan Ponpes KH Abdul Ghofur kepada ANTARA News seusai menerima mantan Gubernur DKI Sutiyoso, Selasa (29/4). Sama halnya dengan Megawati Soekarnoputri, kunjungan Sutiyoso didahului dengan berdialog dengan para petani dan nelayan di wilayah Paciran dan sekitarnya. Di Ponpes Sunan Drajat, Sutiyoso berkeliling asrama yang berdiri di atas tanah seluas 14 ha, melihat sumur peninggalan Sunan Drajat, yang berada di dalam Masjid, berziarah ke makam Sunan Drajat, hingga melihat tumbal Cakra yang ditanam di Masjid Induk Pesantren Sunan Drajat. Tumbal cakra ditanam persis ditengah-tengah Masjid Induk dengan tanda warna hijau berdiameter sekitar 15 cm, menancap di keramik masjid. Sejarah penanaman tumbal Cakra ini, sebagaimana diungkapkan Abdul Ghofur, atas inisiatif seorang pemimpin spiritual asal India yang beragama Hindu bernama, Parabhattaraka Shri Ananganandha Padha Theertha pada tahun 1999. Berdasarkan versi pemimpin Hindu tersebut, konon sekitar 500 tahun yang lalu telah diadakan perjanjian antara tokoh Islam Syeh Subakir dengan pemimpin umat Hindu di India. Perjanjian tersebut diantaranya berisi, "tanah Jawa yang semula masyarakatnya beragama Hindu diserahkan kepada tokoh Islam Syeh Subakir". "Bangunan masjid juga harus berdampingan dengan arsitektur umat Hindu yaitu menara, agar tanah Jawa bisa aman," katanya. Karena itu, setelah 500 tahun perjanjian itu harus diperbaharui dan pilihan lokasi pemasangan tumbal diletakkan di tempat peninggalan para wali yang masih tersisa. "Kata pemimpin Hindu itu kalau tumbal tidak dipasang, akan terjadi bencana dan korbannya delapan juta orang di tanah Jawa akan meninggal," katanya. Meski sedang sakit, Parbhattaraka Shri Ananganandha Padha Theertha datang ke Pesantren untuk memasang tumbal Cakra. Dan peresmian tumbal Cakra, kata Abdul Ghofur, dilakukan langsung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) semasa menjabat sebagai Presiden RI. Abdul Ghofur mengaku tidak tahu pasti tentang kebenaran tumbal Cakra itu. Karena kenyataannya di Indonesia secara beruntun telah terjadi berbagai bencana mulai gempa di Jawa Tengah, tsunami di Aceh, hingga lumpur Lapindo. Masih berkaitan dengan bencana, ternyata dua tahun yang lalu utusan pemimpin Hindu di India tersebut melalui utusannya, Pidaharan datang ke pesantren. Pesannya, Abdul Ghofur diminta datang ke India, untuk meminta doa kepada seseorang yang doanya dianggap paling mujarab sedunia. "Tujuannya agar tanah Jawa yang dulu masyarakatnya beragama Hindu bisa aman," katanya. Abdul Ghofur yang setengah tidak percaya melapor kepada Sekkab Jawa TImur, Soekarwo, dan akhirnya ia berangkat ke India. Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan di tengah hutan di perbatasan Pakistan, Abdul Ghofur dengan diantar pemimpin Hindu tersebut bertemu dengan seorang laki-laki berambut putih berbaju putih. Melalui pemimpin Hindu tersebut, disampaikan permintaan doa keamanan di tanah Jawa. "Orang itu berulang kali hanya menjawab Ya Allah Ya Shomad yang artinya semua itu dari Allah," kata Abdul Ghofur menirukan ucapan orang tua itu. Pondok pesantran Sunan Drajat merupakan satu-satunya pesantren peninggalan wali di tanah Jawa yang masih tersisa. Sedangkan delapan wali lainnya, hanya menyisakan makam. Dianggap satu-satunya peninggalan wali, karena hingga sekarang ini Ponpes Sunan Drajat, masih dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan belajar mengajar Agama Islam. Mulai TK hingga Universitas dengan jumlah siswa dan mahasiswa sekitar 8.000 orang. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. "Dulu di sinilah Sunan Drajat mengajar para santrinya," kata Abdul Ghofur kepada Sutiyoso yang diajak melihat masjid Sunan Ampel. Abdul Ghofur mengungkapkan pesantren Sunan Drajat didirikan Sunan Drajat pada 1460. Kini pesantren Sunan Drajat telah berubah menjadi pesantren megah, yang pembangunannya menghabiskan dana Rp150 miliar, termasuk di dalamnya pemancar radio FM. Di samping membangun gedung sekolahan, gedung asrama para santri termasuk membangun Masjid Induk yang arsitekturnya mirip Taj Mahal. Para guru yang mengajar di pesantren itu juga mendapatkan fasilitas perumahan. Prasarana dan sarana pendidikan di Pesantren Sunan Drajat, lanjut Abdul Ghofur, dibangun dari berbagi usaha yang dikembangkan pesantren, seperti usaha sirup Mengkudu, yang pemasarannya hingga ke Jepang, peternakan sapi, hingga pembuatan pupuk organik. "Tidak ada sepeserpun yang menarik iuran dari wali murid," ujarnya. Abdul Ghofur juga sedang mengembangkan tanaman kemiri Sunan. Kemiri Sunan, katanya, bisa dimanfaatkan untuk BBM, lebih bagus dibandingkan dengan tanaman jarak. "Kalau ini berhasil, Indonesia tidak harus mengambil migas dari dalam perut bumi, tetapi memproses dari kemiri Sunan yang usianya bisa ratusan tahun, " katanya.

Info Unggulan

UWIKA Jalin Kerjasama dengan Ponpes Sunan Drajat Lamongan

Universitas Widya Kartika (Uwika) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Nota kesepahaman itu diteken di Masjid Jelaq Sunan Drajat pada Jumat 24 Mei 2013 oleh Rektor Uwika Dr. Murpin Josua Sembiring, S.E., M.Si., dan pengasuh Ponpes Sunan Drajat Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur.

Kerjasama tersebut akan berlangsung selama 4 tahun ke depan. Penandatanganan MoU dilaksanakan di Masjid Jelaq. Lokasi penandatanganan MoU di Masjid Jelag dipilih bukan tanpa sebab. Sudah banyak petinggi dan tokoh-tokoh besar di Indonesia yang datang untuk melakukan upaya-upaya besar bagi kepentingan orang banyak, derajatnya semakin meningkat.

Dalam sambutannya, Rektor Uwika Dr. Murpin mengatakan, pihaknya menyambut gembira atas ditandatanganinya MoU tersebut. “Sebagai institusi pendidikan tinggi yang kompeten dan profesional, Uwika akan berusaha maksimal membekali penguatan/peningkatan kualitas SDM, penguatan kesiswaan/kemahasiswaan, penguatan bisnis dan enterprenuer serta soft skill yang dibutuhkan dalam perkembangan kehidupan masyarakat pondok pesantren Sunan Drajat khususnya, dan masyarakat Lamongan pada umumnya,” katanya.

Ia menegaskan, Uwika merupakan kampus yang civitas akademikanya mampu berdampingan dengan harmonis dalam suasana multikultur/multietnis dan beragam agama/kepercayaan baik mahasiswa, dosen, dan karyawan.

“Harapan kami, dengan adanya kerjasama ini, antara Uwika dan Ponpes Sunan Drajat bisa saling menyempurnakan dan menguatkan SDM ponpes untuk masa depan yang lebih berkualitas dan produktif,” tambahnya.

Dalam kesempatan di masjid Jelaq Sunan Drajat, Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur mengalungkan selendang berwarna hijau kepada Dr. Murpin sebagai tanda tamu kehormatan dan sekaligus pertanda sudah menjadi keluarga besar Ponpes Sunan Drajat. Tak sembarang orang menerima selendang hijau tersebut. Tercatat, mantan Presiden RI Soeharto, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan mantan Danjen Kopassus Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto pernah menerimanya di masjid tersebut.

KH. Abdul Ghofur memang memiliki pandangan yang terbuka sekaligus selektif untuk semua potensi yang bisa diajak kerjasama. Hal itu dilakukan demi kemajuan ponpesnya yang sangat besar dan luas dengan ribuan santri yang datang dari seluruh Indonesia, bahkan dari mancanegara.

Menurutnya, anak didik ponpes tersebut merupakan generasi penerus bangsa. Calon pemimpin bangsa harus memiliki bekal memamadai agar siap terjun langsung menjawab permasalahan masyarakat, bangsa dan negaranya. Sehingga, dengan adanya kerjamasama yang terjalin ini, akan ada nilai tambah yang didapat. “Harapannya, mereka tidak cuma mahir dalam teori, tapi juga handal pada sisi praktik kehidupan,” lanjutnya.

Turut memberikan sambutan Bapak Eka Budiadi Santosa selaku Ketua Pembina YPPI yang sangat akrab dan dikenal seluruh pimpinan Ponpes Sunan Drajat. Uwika diharapkan mampu memberikan potensi terbaiknya untuk kemajuan SDM di ponpes tersebut 4 tahun kedepan.

Penandatangan nota kesepahaman ini disaksikan ribuan santri pondok dan pejabat Kementerian Pertanian dan Kehutanan RI serta Pejabat kementerian Perikanan RI. Selain itu, kegiatan tersebut juga disiarkan secara langsung oleh Persada TV yang merupakan stasiun televisi milik Ponpes Sunan Drajat. Usai menandatanggani kerjasama, Rektor Uwika beserta rombongan diajak berkeliling. Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur menunjukkan situasi di dalam pondok. Mulai dari fasilitas kantor, perpustakaan, gedung-gedung sekolah, produk hasil praktek siswa berupa kerangka mobil dan kapal, pengelolaan radio dan televisi, hingga tempat proses produksi air mineral Aidrat, dan sentra bisnis ritel dll.

Jenjang Pendidikan

Pondok Pesantren Sunan Drajat sebagai tempat belajar santri, memiliki pola pengajaran pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal antara lain:

Sedangkan Lembaga Pendidikan nonformal antara lain:


Ekstrakurikuler

  • Kursus Komputer
  • Kaligrafi
  • Hadroh
  • Qosidah
  • Kursus Bahasa Arab
  • Kursus Bahasa Inggris
  • Jam’iyatul Quro’
  • Khitobah dan Muhadhoroh
  • Pramuka
  • Silat
  • Fasilitas

    Fasilitas Pondok Pesantren : Masjid, asrama santri, kantor, asrama pengasuh, dapur, gedung sekolah, lapangan, koperasi santri, perpustakaan, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, gudang, kamar mandi/wc, klinik kesehatan.




    Ayo Mondok ! Pesantrenku Keren

    Ayo bergabung bersama kami dan menjadi bagian dari sebuah sajian informasi yang sangat penting di era digital saat ini, bagaimana pula hal ini akan membuat Pondok Pesantren Anda akan dikenal secara lebih luas oleh masyarakat publik internasional lewat sebuah informasi yang tersaji. Hal ini tentunya akan menjadi keuntungan / promosi tersendiri bagi pondok pesantren yang telah bergabung bersama kami.

    © 2016-2018 PP. RMI NU & Team Ayo Mondok
    Hak Cipta Dilindungi