Profil
Pondok Pesanten Singo Wali Songo
berada di bawah naungan Yayasan Nurul Hidayah dan merupakan Pondok Pesantren
Salafiyah Putra dan Putri. Adapun Pondok Pesantren Singo Wali Songo Terletak di
Dusun Becok Desa Kartoharjo Kecamatan Kartoharjo Kabupaten Magetan, akan tetapi
juga mempunyai cabang – cabang atau perwakilan – perwakilan ditempat lain yang
dipandang perlu oleh pengurus. Dusun Becok Merupakan tempat yang berada di
daerah pelosok yang jauh dari keramaian kota, sudah tentu suasananyapun
relative tenang dan nyaman. Dusun Becok berada di tengah-tengah desa lain, yang
batas-batasnya adalah :Sebelah utara berbatasan dengan Desa Tanjung-Ngelang, Sebelah
selatan berbatasan dengan Desa Sukowidi, Sebelah barat berbatasan dengan Desa
Jajar, Sebelah timur berbatasan dengan desa Grogolan
Sebagian besar penduduk Dusun Becok hidup dari
bertani, terutama padi dan palawija serta buah-buahan. Kondisi Sosial Ekonomi
masyarakat masih sederhana. Pola kehidupan masih tampak tradisional, ini
dapat dilihat masyarakat yang masih kental dengan kepercayaan terhadap hal-hal
tahayul, misalnya sebagian masyarakat desa tersebut masih mempercayai adanya
Sang Pelindung (Sing mbahu rekso = Danyang) tanah sendang yang konon angker.
Dari sinilah yang kemudian menambah semangat juang Pondok Pesantren Singo Wali
Songo untuk menguatkan panji-panji da’wahnya ditengah-tengah masyarakat.
Pondok Pesantren Singo Wali Songo didirikan oleh
seorang pemuda yang bernama KH. Abdul Karim Joyodipuro. Beliau dilahirkan di
Magetan tanggal 05 Mei 1955. Berangkat ke Pondok pesantren Roudlotul Ulum,
Kencong Kediri diasuh oleh KH. Zamroji, dan nyantri di Ringin Agung Kediri,
juga di Lirboyo Kediri, semasa di Kencong dalam mempelajari kitab Al-Fiyah di
asuh oleh KH. Mahmud Abdillah (ketika itu masih nyantri di Kencong dan sudah
menjadi Ustadz). Sampai dipertengahan KH. Mahmud Abdillah pindah ke Singosari
malang,unutk menghatamkan pelajaran KH. Abdul Karim Joyodipurominta izin untuk
mengikuti KH. Mahmud Adillah ke Malang, akhirnya seizinnya KH. Zamroji beliau
pindah ke Malang.
Pada tahun 1981 KH. Abdul Karim Joyodipuro ketujuan
suci Makkah Al-Mukaromah untuk memperdalam belajar ilmu agama Islam. Setibanya
di Makkah beliau menetap di Masjidil Haram. Dengan penuh ketelatenan beliau
mengikuti semua pengajian yang disampaikan oleh Masyaikh. Selain iu beliau juga
sering kali berkhalwah di Goa Hiro’. Hal itu eliau lakukan dengan niat ikhlas
unutk menelusuri jejak Nabi ynag Agung, sekaligus bermunajat memohon petunjuk
dari Allah SWT agar deberi bimbingan dalam memperjuangkan Agama Islam di tnah
kelahirannya kelak. Dalam petunjuk tentang bagaimana harus terjun menghadapi
masyarakat ditanah kelahirannya yang masih sangat diliputi dengan kepercayaan
tahayul tersebut.
Banyak guru dan tokoh yang sangat mempengaruhi
perjalanan hidup dan karakter beliau, diantaranya yaitu : KH. Hambali
(Hambruch) dari Lasem, KH. Agus Murod Selo (Gus Murod) dari Selo Purwodadi, KH.
Mu’alif dari Caruban, KH. Yusuf dari Ngawi, KH. Kahfi Woro Joko Lelono dari
Purwo banyuwangi, Syaikh yasin Padang, KH. Kholil Umar Temboro
Pondok
Pesantren Singo Wali Songo tepatnya berdiri tanggal 10 Nopember 1986. Konon
pada tahun 1982, ada seorang pemuda terpelajar dari Dusun Becok, yang telah
mencapi gelar sarjana dalam study-nya, tak lain pemuda itu bernama Untung Darno
Suwiryo, SH, beliau menunakian Haji bersama istrinya Hanifah. Pada waktu itu
menjabat Notaris di Kabupaten Probolinggo yang kemudian pindah ke Surabaya
ampai sekarang.
Di Makkah dia beretemu pemuda asal dari tanah kelahirannya , yang saat itu
masih belajar ilmu agama di sana. Mereka saling cerita tentang tanah
halamannya, tentang kondisi masyarakat, agama dan pendidikan. Untung Darno
Suwiryo memang anak orang kaya ditanah kelahirannya. Dalam pembicaraab
tersebut, H.Untung Darno Suwiryo mengatakan bahwa orang tuanya memiliki
sebidang tanah yang berlokasi disebelah barat pemakaman umum dan kebetulan
dekat dengan tanah punden (Sendang). Untung masih kerabat dekat pemuda (KH.
Abdul Karim) tersebut. Dia bermaksud mewakafkan tanah tersebut agar didirikan
seuah gedung sebagai sarana untuk mengadakan Kegiatan Belajar Mengajar.
Akhirnya mereka berdua sepakat untuk mendirikan Madrasah atau Sekolah Lanjutan
Pertma (SLTP), dengan tujuan mengangkat masyarakat Desa tersebut dan sekitarnya
dari keterpurukan SDM diidang Pengetahuan baik IPTEK maupun IMTAK. Dalam
pembicaraan itu H. Untung Darno Suwiryo berpesan kepada pemuda yang tak lain
adalah KH. Abdul Karim Joyodipuro, agar ia ertindak langsung sebagai pengelolanya.
Sesampainya
di Kampung halaman KH. Abdul karim Joyodipuro langsung menemui H. Untung untuk
membicarakan kembali hasil di tanah Suci dulu. Setelah yakin dan siap belia
mengundang tokoh-tokoh masyarakat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan.
Dalam musyawarah itu sepakat untuk mendirikan SMP Islam. Ternyata mendirikan
suatu sekolah tidaklah mudah dengan apa yang dibayangkan. Setelah bekerja keras
melengkapi persyaratan oleh Diknas masih disuruh menanti jangka satu tahun.
Untuk menunggu satu tahun lagi terlalu lama bagi kami, pengurus khirnya
bermusyawarah untuk melaksanakan yang ada hubungannya dengan AD/ART, dan
didirikan Pondok Pesantren.
Terdengar
berdirinya pesantren ini mengundang datangnya santri dari sekitar lokasi.
Pertama kali santrinya dari sembilan orang, mereka bermusyawarah untuk
memberikan nama Pondok Pesantren. Ada dua usulan nama yaitu Sunan Kali Jogo dan
Singo Wali Songo
Ternyata sembilan anak tadi setuju nama yang kedua,
dari sekian banyak orang yang mengartikan, mereka punya arti yang berbeda-beda,
mulai dari “Bangkitnya Wali Songo” yang terkenal ditanah jawa, sampai arti
Singo adalah si Anak Songo dan masih banyak lagi orang yang mengartikan, yang
jelas itu semua sesuai dengan petunjuk Al-qur’an yaitu:
1. Membuat
perhatian orang
2. Siap
Mendengar
3. Memperhatikan
Sepenuhnya
Sedangkan
Pondok Pesantren Purtri berdiri + tahun 1991, tetapi bertempat di Desa Kluwung
Kecamatan Sawahan Kabupaten Madiun (+ 6 Km dari dusun Becok). Mengingat
tempatnya jauh dari kediaman pengasuh dan pengawasanya tentu sangat sulit,
Pondok Pesantren Putri ditarik di PP. Singo Wali Songo di Dusun Becok Kecamatan
kartoharjo kabupaten Magetan
Pondok
Pesantren Putri Tahfidlotul Qur’an mulai ada tepatnya tahun 1995, yang diasuh
oleh istri KH. Abdul Karim Joyodipuro yang bernama Ny. Izza Nazilatur Rohmah beliau
adalah santri Tahfidzul Qur’an dari pondok Pesantren Pucakwangi kendal jawa
Tengah.
Adapun maksud dan tujuan
didirikannya pondok pesantren ini adalah ;
1.
Membantu
program pemerintah dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan agama
2.
Membentuk
manusia yang beriman dan bertaqwa
3.
Membentuk
manusia yang berahlak mulia
4.
Menegakkan
mengamalkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945
Untuk mencapai tujuan dan maksud
tersebud di atas, maka di pondok pesantren itu mengusahakan adanya ;
1.
Pondok
pesantren dengan sub pindidikan yang ada di dalamnya yang berupa Madrasah
Diniyah ,Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah .
2.
Pendidikan
dalam bidang Al-Qur’an , dalam model pengajaran yaitu Bi Tartil, Bin Nadlor, Bil
Hifdzi { dengan hafalan }
3.
Pendidikan
lewat kitab kuning
4.?
Pendidikan cara berdakwah atau berpidatoh, seni
baca Al-Qur’an (Qiro’ah )Pengasuh : KH. Abdul Karim Joyodipuro
Pendiri : KH. Abdul karim Joyodipuro
Jenjang Pendidikan
Jumlah Santri Putra : 174
Jumlah Santri Putri : 92
Pendidikan Formal :
1. RA Singo Walisongo,
2. MI Singo Walisongo,
3. MTs Singowalisongo,
4. MA Singo Walisongo,
5. Ma'had Aly
Pendidikan Informal :
1. Madin Singo Walisongo,
Pendidikan Nonformal :
1. Tahfidzul Quran,
Ekstrakurikuler
1. Pramuka,
2. Komputer,
3. Drum Band,
4. Kaligrafi Islami,
5. Seni Music Islami,
6. Seni baca Al Qur’an (Tilawatil Qur’an),
7. Kecakapan Hidup
Fasilitas
1. Aula utama
2. 2 aula pondok pesantren singo wali songo,
3. 1 kantor yayasan,
4. 1 kantor pengurus,
5. 2 kamar pengurus,
6. 39 kamar santri,
7. 5 ruang belajar,
8. mushola,
9. kantin,
10. dapur,
11. ruang makan,
12. 17 WC,
13. 29 kamar mandi,
14. 2 ruang tamu,
15. 15 ruang belajar,
16. bangunan sekolah RA,
17.
bangunan sekolah
MI,
18.
bangunan sekolah
MTs,
19.
bangunan sekolah
MA Singi Walisongo